Selasa, 12 Maret 2013

Rumah Gadang Bundo Kanduang


 
Rumah Gadang Bundo Kanduang yang terdapat di Gudam Pagaruyuang ini seperti memanggil kami untuk singgah. Dua tahun lalu ketika Tim Pulau Api berwisata ke Tanah Datar, rumah ini tak sempat kami kunjungi. Kami terlalu asyik menikmati prasasti peninggalan sejarah yang berkaitan dengan Adityawarman  serta batu batikam yang menyimpan cerita tentang Datuk Katumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sabatang.

Hal lain yang menyebabkan rumah ini luput kami liput adalah karena tidak banyak informasi yang kami dapat mengenai rumah gadang ini, sepertinya rumah ini tidak menjadi salah satu obyek wisata disana padahal tempatnya berseberangan dengan prasasti Adityawarman dan dekat dengan obyek wisata lainnya, memang tidak ada papan pemberitahuan yang menyebutkan rumah ini adalah situs cagar budaya.

Namun kali ini kami sengaja mendatanginya, ada semacam kekuatan yang menarik rasa rindu untuk berkunjung. Masih seperti duatahun lalu, rumah ini tetap terkunci seolah menyendiri. Halamannya luas namun bersih dan tertata rapi, terlihat sekali bahwa rumah ini sangat terurus meski tak sepeserpun mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten. Pemilik rumah menjaga dan merawatnya sepenuh hati dengan kemampuan yang dimiliki.

Di halaman kiri depan tedapat papan yang bertuliskan “Rumah Gadang Bunda Kanduang, Batu Basurek Gudam Pagaruyung, Jl Sultan Alam Bagagarsyah No 155, Batusangkar”, dan dihalaman depan sebelah kanan terdapat batu besar yang sepertinya untuk tempat duduk bersandar, serupa seperti  yang  terdapat di Medan bapaneh, tempat bermusyawarah jaman dahulunya.

 
 
Meski pun pintu gerbang terkunci, hal tersebut tidak menyebabkan kami berpikir untuk membatalkan rencana yang i sudah terpatri  di hati, maka dengan suara lantang, aku menyuarakan salam “Assalamualaikum….”, dua kali salam aku ulang, keluarlah seorang wanita tua membawa kunci dan membuka pagar, segera aku salami tangannya seraya mencium punggung tangannya.
“lai sihaik Mak?”

Meskipun mungkin beliau bingung dalam hati, tetapi dijawabnya juga pertanyaanku sambil mempersilahkan kami menuju rumah gadang. Anak laki-lakinya kemudian membuka pintu rumah gadang dan menganjurkan kami untuk langsung naik ke rumah.
“Masuak lah Nak…” kata perempuan yang aku panggil dengan sebutan amak itu dengan ramah tanpa sedikitpun bertanya siapa kami sebenarnya.

Baru saja kami duduk, kami lantas disuguhi cerita tentang rumah gadang ini, beliau tentunya sudah mengira maksud kedatangan kami.
Rumah Gadang Bundo Kanduang  menurut cerita yang dikisahkan oleh anak laki-laki amak itu adalah tempat asal usul Raja Pagaruyuang.

“Kerajaan asli Pagaruyuang ya ini, disini…di Ranah Kampuang Dalam, Gudam Pagaruyuang”
Rumah Gadang ini hanya memiliki tiga ruang, tak lazim memang, karena biasanya rumah gadang memiliki Sembilan ruang. Namun keheranan kami segera terjawab oleh cerita yang dituturkan kemudian.

“daulu (dulu) rumah ini memiliki Sembilan ruang, tetapi rumah gadang pertama telah terbakar pada abad ke 14. Berikutnya dibangun lagi rumah gadang kedua yang konon kisahnya memiliki 13 ruang, tetapi rumah itupun terbakar pada tahun 1804. Kemudian pada tahun 1812 didirikan Rumah gadang Bundo kanduang”
“kok sekarang cuma tinggal 3 ruang pak?” tanyaku

Beliau menceritakan karena alasan finansial “ cuma seperti inilah yang mampu kami bangun lagi.”
Sambil mendengarkan cerita,  mata kami terus mengelilingi ruangan yang keseluruhannya didominasi warna kuning. Tiang-tiangnya masih asli dan juga dibungkus kain berwarna kuning, menurut amak hal tersebut  adalah permintaan moyang mereka yang disampaikan kepada anak perempuannya.

“anak nenek sering didatangi moyang kami dalam mimpinya” kata nenek yang telah berumur 81 tahun ini.

Tiga ruangan yang sekarang diisi dengan beberapa peninggalan-peninggalan lama yang jadi koleksi Rumah Gadang Bundo Kanduang ini lebih tinggi dari lantai rumah. Di ruang tengah terdapat tempat makan raja yang disebut dulang.  Diatas Dulang bersusun bermacam ukuran keris dibungkus kain kuning
 
“Dulang tampek makan raja ini cuma ada dua di dunia, satunya lagi ada di Tibet” jelas bapak yang terus asyik bercerita kepada kami. Dan  amak tersebut menamakannya Dulang Sati.

Cerita tentang raja Minangkabau dan Rumah Gadang Bundo Kanduang terus mengalir. Berkisahlah si bapak tentang silisilah Raja minangkabau dimulai dari Puti Jamilan yang disebutnya sebagai Bundo kanduang  yang makamnya terdapat di makam Ustano Rajo Alam. Bapak itu kemudian menunjukkan catatan kecilnya tentang silsilah tersebut.
 
Puti Jamilan memiliki anak yang bernama Puti Reno Suri. Makam Puti Reno Suri bisa dijumpai di Lunang.

Puti Renosari mempunyai anak laki-laki yang bernama Sultan Rumanduang bergelar Dang Tuanku, iapun dimakamkan di Lunang. Dang Tuanku beristri Puti Bungsu.
Puti Jamilan memiliki seorang kakak laki-laki bernama Sultan Machmud Alam Dunia, dan adik perempuannya bernama Puti Silinduang Bulan.
Puti Linduang Bulan mempunyai dua orang anak, yaitu Puti Intan Suri dan Sultan Alamsyah Pangulu Rajo.


Selain mendengar cerita tentang riwayat raja Minangkabau menurut versi orang Rumah Gadang Bundo Kanduang, kami juga diperlihatkan koleksi yang merupakan bukti sejarah Islam di ranah minang.  Sebuah Al-Qur’an tulisan tangan diperlihatkan kepada kami. Ditulis diatas kertas Pro Patria berhologram. Ada tulisan MAGT yang berarti power atau kekuasaan.
Keberadaan Al Qur’an ini diketahui  jauh sebelum Agama Islam masuk di ranah Minang.

Meskipun aku dan anggota tim Pulau api tidak mengerti secara persis mengenai sejarah Minangkabau, setidaknya cerita yang disampaikan oleh ahli waris pemilik Rumah Gadang Bundo Kanduang ini menambah khasanah pengetahuanku.
Cerita tentang tiga raja yang memimpin Minangkabau yang kami dengar di dalam Rumah Gadang bundo kanduang ini tidak berbeda dengan yang pernah kubaca mengenai Rajo Tigo Selo yang terdiri dari Raja Alam, Raja Ibadat dan raja Adat.
Raja Pagaruyung yang memimpin Minangkabau dikenal pula dengan sebutan Raja Alam. Dalam melaksanakan tugasnya raja Alam dibantu oleh Raja Adat yang mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan adat,  Raja Ibadat memutuskan hal-hal yang bersangkutan dengan urusan  agama dan pendidikan sedangkan Raja Alam merupakan raja tertinggi yang memutuskan hal-hal  berhubungan dengan pemerintahan secara keseluruhan.

Ketiga raja tersebut memiliki daerah kedudukan masing-masing.  Raja alam di Pagaruyung, Raja Adat berkedudukan di Buo ( Lintau menurut si Bapak) dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus.
Cerita tentang ketiga raja tersebut kemudian dihubungkan dengan 3 Pohon beringin yang letaknya tidak jauh dari Rumah Bundo Kanduang.
Katanya: “ Pohon Beringin besar melambangkan Raja Alam, Beringin yang terdapat ditengah melambangkan Raja Adat dan pohon beringin berikutnya yang terdapat disebelah kiri melambangkan Raja Ibadat.”

Puas mendengar kisah Rumah Gadang dan cerita didalamnya kami melanjutkan mengambil beberapa gambar barang-barang peninggalan yang menjadi koleksi rumah ini.
Koleksi:
 
 
 
 

Tombak Giwang Teratai Putih
 
 
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 31 Januari 2013

Pulau Pisang Ketek

Jalan kaki menuju Pulau, bukan gurau...

"Bun, ntar kita ke Pulau Pisang ketek ya" ajak Pandeka begitu aku dan Ahlam tiba di Bandara Minangkabau.
"gak ah, kamu khan tau bundo takut naik sampan atau perahu nelayan"
"tenang bun, gak perlu naik perahu untuk sampai kesitu, kita jalan kaki santai dari pantai" katanya berusaha meyakinkan.
Sekalipun aku suka jalan-jalan yang sifatnya semi bertualang tapi banyak kegiatan yang membuatku takut sampai degdegan kencang, maklumlah aku ini penggamang. Namun anggota tim yang lain selalu gak mau meneruskan perjalanan kalau aku gak mau ikutan sehingga terpaksa aku kadang ikut juga.

Berjalan kaki menuju pulau memang merupakan kegiatan keren yang sayang untuk dilewatkan. Saat air surut kita bisa berjalan di laut.

Pulau Pisang Ketek berada di kawasan wisata pantai Aie Manih Padang, satu lokasi dengan Batu Malin Kundang, jadi sebelum ke pulau kita bisa melihat batu bersujud yang terkenal melalui cerita rakyat Minang, Malin Kundang. ceritanya tetap hidup sampai saat ini. Kisah seorang anak yang dikutuk jadi batu karena durhaka pada ibu. Kutukan jadi batu sekaligus juga membatukan kapal besar yang membawanya pulang dengan berlayar.

Pantai Aie Manih terletak disebelah selatan kota Padang kira-kira berjarak sekitar 10 km dari pusat kota. Meski jarak tak jauh namun waktu tempuh bisa mencapai 20 menit karena harus melalui jalan berliku, naik dan turun bukit pasal kawasan ini letaknya dibalik Gunung Padang.
Pantainya cukup luas, dengan hamparan pasir berwarna coklat emas, airnya bening, ombaknya tenang. Kalau tak ingin bermain air dan berenang di pantai, ada pondok-pondok yang bisa jadi tempat kita berteduh dari sengatan matahari saat menunggu.

Pulau Pisang ketek (Pisang kecil), salah sebuah pulau kecil diantara 19 pulau-pulau kecil lainnya yang termasuk dalam wilayah kota Padang ini berjarak tak jauh dari pantai, sehingga untuk bisa dicapai dengan berjalan kakipun tak akan terlalu menyebabkan lelah lunglai. Dari tepi pantai kita masih bisa menatap dengan jelas orang yang berjalan menyeberang mencapai pulau yang banyak ditumbuhi tanaman kelapa.

Agar bisa berpuas-puas menikmati keindahan laut lepas dari pulau ini, sebaiknya berangkat jangan terlalu sore, pada saat siang biasanya air laut surut dan ketinggian air tidak sampai selutut. Kalau yang sengaja ingin menikmati sunset gak perlu merasa takut gak bisa balik karena air pasang sebab ada perahu yang bisa membawa kembali ke pantai.


















Selasa, 29 Januari 2013

Nagari Maek nan mamikek...

Maek, Nagari Seribu Menhir.

Nagari Maek di Payakumbuah menjadi salah satu tujuan wisata yang menempati daftar teratas dalam agenda perjalanan wisata tim Pulau Api kali ini, oleh karena itu Lembah Harau dan Ngalau di Kabupaten Limopuluah Koto pun ada pada urutan sesudahnya untuk dikunjungi.
Ketertarikan untuk mengunjungi tempat tersebut disebabkan rasa penasaran ingin melihat Menhir, suatu peninggalan pra sejarah di zaman neolitikum, masa 6000/4000 SM - 2000 SM.
Batu tunggal (monolith) yang berdiri tegak diatas tanah itu menunjukkan adanya kehidupan manusia purba di ranah Minang. Hal inilah yang menjadi akar rasa penasaran, sebab menurut Tambo Minang nenek moyang masyarakat Minang dikatakan bermula dari lereng Gunung Marapi.

Nagari Maek, sebuah nagari yang terdapat di Kecamatan Bukit Barisan jaraknya kira-kira hanya 42 km dari pusat kota Payakumbuh, namun untuk mencapai lokasi tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama, mengingat jalan menuju daerah yang terdapat di sebuah lembah ini harus melalui jalan berliku, mendaki dan menuruni bukit, medan yang cukup sulit. Meski sebagian jalannya sudah beraspal mulus, tetapi masih ada kondisi jalan yang rusak parah, sehingga supir harus beberapa kali turun untuk memastikan bahwa mobil dapat melintasi jalan dengan aman.

Perjalanan yang mebutuhkan waktu yang cukup lama tersebut sama sekali tidak mampu melahirkan rasa bosan, pasal pemandangan yang menakjubkan terhampar di sepanjang perjalanan. Alam yang asri diselingkar perbukitan sungguh menawan, cahaya matahari yang jatuh pada salah satu sisi bukit-bukit kecil membuat bukit seolah hijau menyala dan bukit yang lebih tinggi berwarna keabu-abuan nampak dari kejauhan.


Meskipun nagari yang menyimpan bukti kehidupan pra sejarah ini merupakan salah satu obyek wisata yang juga menjadi tujuan para peneliti yang ingin mengungkapkan adanya kehidupan purba disini, namun ternyata untuk menemukannya tidaklah mudah, sebentar-sebentar kami harus berhenti untuk menanyakan lokasi tujuan, tidak ada penunjuk arah yang terpampang sebagai pemandu perjalanan ke Nagari yang disebut sebagai nagari tertua, sungguh sayang memang.

Meskipun Nagari yang dipagari bukit dan berada di lembah namun kondisi yang demikian tidak membuat masyarakat yang berjumlah lebih kurang 12.000 jiwa di lokasi tersebut terisolasi dari perkembangan, kehidupan disana tampak maju, pekerjaan rata-rata penduduk adalah berladang dan beternak sapi.

Situs Megalith

Kompleks yang menyimpan berpuluh batu tegak yang pertama kami datangi adalah Cagar Budaya Megalit Balai Batu. Di kompleks ini terdapat tidak kurang 60-70 batu menhir yang tegak berdiri dan kesemuanya menghadap ke bukit Bungsu.

Meskipun saat itu sedang gerimis, kami tetap berlarian ke halaman yang cukup luas untuk mengagumi dan mengambil gambar sebagai dokumentasi Tim Pulau Api yang mempunyai kegiatan berwisata di ranah Minangkabau, sebuah kegiatan pribadi yang dilakukan sebagai bentuk partisipasi dalam rangka mengembangkan potensi wisata di Sumatera Barat. Meskipun kecil sumbangsih yang diberikan tapi kami yakin sekecil apapun peran serta yang dilakukan tetap akan menghasilkan manfaat, setidaknya tulisan ini bisa jadi tambahan informasi dan bermuatan promosi.

Setelah puas mengagumi dan mengambil gambar, kami sempat bertemu dan berbincang dengan seorang petugas dari BP3, dari beliau kami mendapatkan informasi bahwa Menhir-menhir tersebut merupakan pertanda kubur, merupakan batu nisan.

Dari Cagar Budaya Megalit Balai Batu perjalanan memburu menhir dilanjutkan, hingga sampai di situs dimana pada tempat tersebut tersebar hampir 370 monolith.
Bagai menemukan sesuatu yang sangat berharga, kami lantas berhamburan ke dalam area yang mungkin saja merupakan lokasi perkuburan purba dan tentu saja terlebih dulu kami mengucapkan salam "Assalamualaikum Nyiak" begitu bunyi salam yang kami ucapkan. Selepas itu masing masing anggota memulai kesibukan sendiri-sendiri, mengambil foto-foto batu dari berbagai sisi, setiap kali ada yang menarik perhatian kami akan saling memberitahukan. Meski bukan ahli, sikap kami seperti layaknya peneliti yang mengerti, tertarik memperhatikan setiap detail yang ada di batu monolith di situs cagar budaya Menhir Bawah Parit.

Di Padang luas yang menjadi kompleks situs megalit Menhir bawah Parit tersebar berbagai bentuk dan jenis batu, semuanya menghadap ke arah Gunung Sago. Menhir yang terdapat disini lebih bervariasi ukurannya. Kalau dilihat dari warna (seperti ahli saja) kami menyimpulkan materialnya juga berbeda, ada yang seperti kumpulan batu karang




































Rumah Tua dan Batang Kelapa

Dalam perjalanan wisata ke Pantai Gondoriah Pariaman yang kami lakukan tahun lalu, ada satu pemandangan menarik tentang sebatang pohon kelapa unik yang belum sempat kami tulis. Entah karena terlupa karena begitu pulang jalan-jalan aku langsung disibukkan urusan kerjaan, atau minat nulis lagi menemu jalan buntu, entahlah. Padahal perjalanan wisata ke ranah Minang adalah kegiatan rutin yang aku lakukan bersama Tim Pulau Api, sebuah komunitas kecil yang punya keinginan besar untuk ikut berperan dalam mengembangkan kepariwisataan tanah tempat kedua orang tuaku berasal.
Biasanya setiap pulang dari kegiatan berwisata, pengalaman menyenangkan itu akan segera dapat dibagi lewat tulisan dan foto-foto dengan harapan akan ada orang yang terpikat, penasaran dan lalu berhasrat untuk juga berkunjung ke tempat yang kami ceritakan. Lewat cerita dan gambar itu lah Tim Pulau Api ingin mengambil peran dalam mempromosikan tempat dan obyek wisata yang ada di ranah Minang.

Setelah sekian lama cerita mendekam dalam ingatan, tiba-tiba saja keinginan untuk berbagi pengalaman menyenangkan ketika jalan-jalan ke Pantai-pantai di Pariaman muncul lagi ketika melihat foto-foto yang menyimpan kenangan, terutama tentang sebatang pohon kelapa unik yang terlihat tanpa sengaja. Pohon kelapa dengan batang yang mirip keris.
Begitu menarik perhatiannya pohon kelapa ini bagi kami, membuat supir yang mengantar kami terkejut karena teriakan serempak. "pak, berhenti pak kita balik arah!"
Meski tidak mengerti mengapa ia harus berhenti tiba-tiba dan berbalik arah, namun keinginan kami itu dituruti tanpa banyak tanya.

Segera setelah mobil berhenti, kami turun seperti tak sabar untuk mencapai lokasi dan mendatangi sebuah warung untuk mendapatkan cerita tentang batang kelapa ini.
Setelah memperkenalkan diri, kamipun mulai bertanya ini dan itu. Mereka sepertinya cukup tercengang melihat ketertarikan kami yang demikian besar sehingga dengan bersemangat mereka pun menceritakannya dengan senang hati. (sayang aku lupa nama-nama mereka).

Mereka mulai bercerita tentang pohon kelapa yang sudah ada sejak lama, sejak mereka masih kecil. Menurut cerita yang mereka dengar, pohon kelapa ini merupakan pohon kelapa hijau yang air buahnya bisa untuk mengobati berbagai macam penyakit, satu-satunya pohon kelapa hijau diantara sekian banyak pohon kelapa yang tumbuh disana. Boleh percaya boleh tidak, menurut cerita yang aku dengar pelepah keringnya tidak pernah jatuh disekitar pohon, tetapi kepantai yang berada jauh dari tempat pohon tumbuh.
Cerita lain, konon kisahnya untuk memetik buah kelapa ini tidak dapat dilakukan beruk, harus orang yang memanjat dan buah tidak boleh dilemparkan ke tanah, jadi untuk membawanya turun terpaksa harus menggunakan gigi yang menggigit bagian ranting tempat buah menggelayut, ini bisa dipahami karena kedua tangan digunakan untuk memeluk batang pohon.

Pohon kelapa ini menjulang lebih tinggi dari pohon kelapa lainnya, tumbuhnya agak jauh dari pinggir jalan. Ketika aku mengutarakan niat untuk melihatnya lebih dekat, mereka mempersilahkan walaupun mereka sendiri bilang tidak berani karena menganggap pohon ini keramat karena tumbuhnya di kuburan, tepat di bagian nisan. Ehm aku agak ragu sebenarnya dengan niat semula, tapi penasaran juga. Akhirnya rasa penasaran yang menang, aku berjalan ke dalam.














Selasa, 20 November 2012

Rumah Puisi Taufiq Ismail


RUMAH PUISI TAUFIQ ISMAIL



Mumpung lagi berada di  ranah Minang dalam waktu yang tak panjang, kami tak mau membiarkan waktu berlalu tanpa mengunjungi tempat yang kami buru. Setiap hari selalu pergi dari pagi dan baru kembali malam hari. Meski selama lima hari menginap di rumah Walikota Padang Fauzi Bahar, bertemu dengan beliau cuma sebentar-sebentar, selebihnya waktu dihabiskan dengan jalan-jalan. Beliau sudah tak heran melihat aku terlalu banyak kegiatan, ini kunjungan yang kesekian yang menjadikan rumahnya sebagai tempat penginapan.

Perjalanan rutin sejak tahun 2009 (minimal sekali dalam setahun) itu memang diagendakan untuk berkeliling ke Kabupaten dan Kota di Sumatera Barat, mengunjungi tempat dan obyek-obyek wisata. Lewat tulisan dan foto-foto, cerita perjalanan wisata tim Pulau Api kami bagikan agar informasi mengenai tempat-tempat tersebut semakin banyak yang mengetahui. Lewat cara seperti itulah kami ingin ikut berpartisipasi dalam memajukan pariwisata di Sumatera Barat.

Tujuan kali ini adalah ke rumah Puisi Taufik Ismail di Padangpanjang. Kami sengaja memilih jalur yang melewati Danau Maninjau terus naik ke kelok ampekpuluh ampek, lewatin Kotogadang Bukittinggi, baru ke Padang Panjang. Perjalanan yang lebih singkat waktu tempuhnya sebenarnya bisa melalui jalur Padang-Padangpanjang, tapi sengaja kami memilih jalan memutar, maklumlah kami sedang bertamasya.



Tiba di rumah puisi sudah sore. Mobil kami parkir di Rumah makan Aie Badarun yang terletak tak jauh dari situ, ke lokasi kami berjalan kaki melewati jalan yang mendaki. Di luar berdiri tugu yang menampilkan salah satu puisi karya sastrawan terkenal itu. Puisi yang juga dijadikan lagu dan dinyanyikan dengan suara merdu oleh grup Bimbo, Dengan Puisi.

Karena hari telah menjelang senja tempat ini terlihat sepi, namun rumah yang menjadi semacam perpustakaan yang nyaman ini ternyata tak berkunci, sambil mengucapkan salam kami masuk ke dalam dan seketika saja semuanya langsung asyik sendiri-sendiri, menikmati apa yang menjadi minat hati. Semua tak bersuara, aku diam di hamparan hambal dan bersandar pada bantal besar, sekali-sekali membaca sambil tiduran, santai dan menyenangkan.



Rumah yang sekaligus seperti ruang pameran, menyimpan berbagai macam koleksi buku,  selesai dibangun pada pertengahan tahun 2008 dan berfungsi sebagai pusat Kebudayaan, tempat pelatihan guru bahasa dan sastra serta menjadi sanggar tempat berlatih para siswa. Bangunan yang berada diatas lahan yang luas terletak di kaki Gunuang Singgalang dan Merapi, Nagari Aia Angek, Jl Raya Padang Panjang-Bukiktinggi km 6, Sumatera Barat.



Taufik Ismail seorang penyair kelahiran Bukittinggi memang dikenal sebagai sosok yang demikian sangat peduli pada perkembangan sastra di Indonesia, beliau prihatin terhadap kondisi pengajaran sastra di Indonesia dan mendedikasikan hidupnya untuk memperbaiki kondisi tersebut. 
Beliau melakukan survey mengenai wajib baca buku sastra di sekolah pada tahun 1990 an. Hasil penelitiannya dipajang di ruang depan tepat di depan pintu masuk. Mau tau berapa buku sastra yang wajib di baca para siswa di sekolah Indonesia? 
Jawabnya Nol buku. 
Menyedihkan sekali kenyataan itu



Oya, bagi yang belum sempat ke Rumah Puisi sampai saat ini, silahkan nikmati dulu foto-foto ini, lalu buatlah jadwal untuk berkunjung kesana, buka jendela dunia selebar-lebarnya, raup manfaat sebanyak-banyaknya dengan membaca.

semua asyik sendiri-sendiri


























Di Rumah Puisi kita tak akan mungkin bosan, selain pemandangan disekitarnya menawan, bunga warna-warni di halaman semakin membuat rasa kerasan.