Tampilkan postingan dengan label padang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label padang. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2012

Klenteng Kwan Im



Beberapa tempat peribadatan dan kegiatan keagaman menjadi obyek yang akan dikunjungi oleh Tim Pulau Api dalam perjalanan wisatanya di Padang Kota tercinta, salah satunya adalah Klenteng Kwan Im yang merupakan salah satu Cagar Budaya yang terdapat di kawasan kota tua Padang, tepatnya di jalan Kelenteng, kelurahan Kampung Pondok.


Klenteng Kwan Im (Klenteng See Hin Kiong)


Klenteng yang sekarang lebih dikenal dengan nama Klenteng See Hin Kiong ini dibangun pada tahun 1905, setelah Klenteng Kwan Im yang dibangun pada tahun 1861 habis dimakan api.

Klenteng adalah nama yang biasa digunakan untuk menyebut kuil atau tempat peribadatan dan kegiatan keagamaan masyarakat China dan penganut ajaran Tridharma (Buddha, Tao dan Konghucu).
Istilah ini hanya dikenal di Indonesia. Menurut kisahnya , istilah klenteng diambil dari suara yang terdengar dari genta yang dipukul dan menimbulkan bunyi klinting , jika gentanya besar bunyi yang ditimbulkan terdengar sebagai Klenteng. Dalam bahasa Mandarin biasa disebut dengan kata bio, Kiong. Kiong berari bangunan besar dan megah yang didirikan oleh raja, secara harafiah Kiong berarti Istana.

Gempa 7.6 SR yang melanda kota Padang tiga tahun silam juga merusak bangunan Klenteng See Hin Kiong, sehingga ketika Tim Pulau Api berkunjung ke tempat ini pada Januari 2012, kami tidak diperkenankan dekat-dekat untuk alasan keamanan, hal ini meski menimbulkan rasa kecewa tetapi sangat beralasan karena disana-sini masih terlihat kerusakan yang belum diperbaiki, dindingnya retak, atapnya sebagian koyak dan masih banyak bagian lain yang rusak. Untung saja peringatan itu disampaikan setelah kami sempat mengambil beberapa foto bangunan asli. Sejak gempa itu kegiatan peribadatan dilakukan di bangunan sementara.

Seperti halnya Istana, Klenteng See Hin Kiong juga memiliki halaman yang luas, ditengah-tengah halaman terdapat kolam yang ditumbuhi tanaman teratai. Pada bagian tengah kolam terdapat Hiolo yang dijaga oleh sepasang Naga.






Hiolo adalah tempat meletakkan hio (dupa Cina) yang telah dibakar, bentuknya bulat. Menurut keyakinan, Hiolo tidak boleh diletakkan langsung di tanah oleh karena itu biasanya Hiolo diletakkan diatas  tiga penyangga yang berbentuk kaki harimau, tetapi ada pula yang diletakkan di meja altar.

Hiolo yang berada di luar ditujukan untuk menancapkan dupa yang dibakar pertama kali sebagai bentuk menyembah kepada Thian (Tuhan yang Maha Esa). Mereka yang membakar dupa akan menancapkan 9 batang Hio Tuhan dengan sikap diri menghadap ke luar, oleh karena itu jalan yang dibuat untuk mencapai Hiolo seolah berputar.

Bangunan klenteng memiliki wuwungan yang ujungnya melengkung keatas. Atap yang memiliki fungsi melindungi siapapun yang ada di bawahnya disimbolkan sebagai surga.
Pada bagian ini terdapat berbagai hiasan antara lain beberapa pasang Naga, burung Phoenix dan persis di tengah atap ada patung dewa.



Naga dikatakan sebagai raja dari segala binatang yang ada di alam semesta, ia dapat hidup di tiga alam.
Kepalanya seperti kepala buaya, badannya bersisik  dan meliuk-liuk seperti badan ular, sementara cakar yang terdapat di keempat kakinya seperti cakar burung. Motif Naga biasanya terdapat di atap dan menjadi lukisan dinding.

Burung Hong (Phoenix) melambangkan kelembutan dan iklim yang hangat, bulunya terdiri dari lima warna : hitam, putih, merah, hijau, kuning.



Pintu masuk





































Pintu masuk berwarna merah, dua patung Kilin menjaganya. 


Kilin (Unicorn)






































kimlo






































Dinding



























dinding















Lilin

Lilin yang terdapat di altar disimbolkan sebagai cahaya  yang memberi penerang kehidupan dan menghilangkan ketidak-tahuan




Altar

Altar berfungsi untuk meletakkan alat-alat untuk sembahyang seperti lilin, hio dan makanan dan minuman persembahan.




Altar

...





Minggu, 04 November 2012

Menikmati senja di Jembatan Siti Nurbaya


Kalau pernah membaca atau mendengar kisah percintaan yang terdapat dalam novel yang melegenda yang dituliskan oleh Marah Rusli, maka kita akan seketika teringat pada tokoh perempuan bernama Siti Nurbaya. Nama ini lah yang diabadikan sebagai nama jembatan yang melintas diatas  sungai (batang) Arau.
Jembatan yang diresmikan pada tahun 2002 ini terbentang sepanjang lebih kurang 60 meter, menghubungkan kota Padang (kota Tua) dengan daerah perbukitan hijau bernama Gunung Padang yang terlihat di latar belakang.
Dari atas jembatan Siti Nurbaya, saat matahari mulai meredupkan sinarnya dan langit ikut menggambar warna senja, kesibukan pun mulai terlihat, para penjaja makanan dan minuman mulai menjejerkan kursi-kursi dengan punggung bersandar pada lengan jembatan, tempat-tempat itu dipersiapkan bagi mereka yang ingin menikmati pemandangan sore, sekedar bersantai sambil berceloteh, dan bisa saja ada yang merajut kisah serupa cerita novel Siti Noerbaja (dengan akhir cerita yang bahagia tentu saja), memadu kasih dan membuat janji sambil mata memandang kesegala arah, ke arah pemandangan gunung Padang yang hijau, atau ke arah perahu warna-warni yang tertambat di Batang Arau. Mungkin pula diantara mereka yang bertandang di waktu petang ketempat ini, ada yang melakukan kegiatan seperti yang kami lakukan, memandangi bangunan-bangunan tua yang masih tampak megah sambil menggumamkan tanya: 
“hmm, kenapa ya enggak dikelola selayaknya sebuah lokasi wisata sebab sesungguhnya bangunan-bangunan tersebut selain memberi kesan indah pasti juga menyimpan cerita nostalgia. Tidak jarang orang berwisata untuk mengenang kisah masa lalunya yang bukan mustahil pula cerita lama tersebut diturunkan dan membuat yang mendengar ikut pula penasaran”

MUARO

Pelabuhan Muaro, dalam kisah sejarahnya dulu adalah pelabuhan yang sangat aktif, pernah menjadi tempat berlabuhnya kapal-kapal besar dan menjadi pusat ekspor rempah-rempah, tidak selain itu  pelabuhan muara tempo dulu dijadikan sebagai tempat singgah kapal yang berangkat mengarungi samudara dari Eropa, China yang berlayar menuju Jawa. Pelabuhan muaro dulu menjadi tempat favorit para nakhoda karena secara geografis lokasinya seperti dilindungi gunung sehingga aman dan membuat mereka jadi terhindar dari hempasan ombak ganas yang berasal dari Samudera Hindia.
Kini, Pelabuhan Muaro tampak begitu tenang dan lengang, menyimpan berbagai kisah yang bisa terus dikenang, gambaran kemegahan bangunan masa lalu masih bisa kita temukan di sekitar kawasan kota lama.


Meski tak seramai dulu, sampai saat ini di Muaro Batang Arau masih terlihat beberapa kapal warna warni yang tertambat disana, ini menunjukkan bahwa kawasan ini masih berfungsi sebagai pelabuhan, masih terasa nafas kehidupan pelayaran  meski nyaris sepi.

Sabtu, 03 November 2012

Jalan-jalan ke Museum Adityawarman


Catatan PerjalananWisata Tim Pulau Api, November 2010

Meskipun dikabarkan bahwa penerbangan kali ini dilakukan dalam cuaca buruk, tapi pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau dengan mulus, Alhamdulillah. Cuaca yang berawan tebal menyebabkan tidak ada pemandangan yang terlihat dari kaca jendela, semuanya terlihat putih seperti tertutup kabut, bikin rasa takut. Tapi situasi yang demikian tak berlangsung lama, akhirnya melandas juga.

Dari bandara kami mampir dulu ke rumah di jl A. Yani, membereskan barang bawaan  kemudian bersilaturahmi dengan saudara. Setelah itu bersantai ke tepi laut, menikmati debur ombak sambil mengisi perut,  sengaja kami tidak berlama-lama disana karena perjalanan akan dilanjutkan ke museum 
Adityawarman yang terdapat di Jl Diponegoro sebaai tujuan utama di hari pertama.

Ruang depan


Museum Adityawarman yang juga mengalami kerusakan akibat gempa tahun lalu yang menyebabkan sekitar 300an koleksi keramiknya pecah, baru saja selesai di renovasi lebih kurang sebulan yang lalu. Dan ketika datang, sangat jarang orang yang bertandang, sepi, seolah obyek ini bukan merupakan tempat yang menarik hati.

Sepertinya gema Gerakan Nasional Cinta Museum 2010-2014 kurang mengudara dan tak terbawa angin kemana-mana, membuat hati bertanya-tanya, apakah kira-kira penyebabnya, padahal Museum, selain berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memamerkan benda koleksi sejarah, sebetulnya juga mempunyai fungsi lain yaitu sebagai sarana edukasi, mengembangkan dan memperkenalkan budaya yang beragam di Indonesia yang memiliki begitu banyak adat dan budaya yang kesemuanya mungkin tidak bisa diperkenalkan secara mendalam di sekolah, sehingga pemerintah sendiri merasa perlu mencanangkan tahun kunjungan Ke Museum.

Sebagai suatu gerakan nasional sudah semestinya hal ini mendapat perhatian dan persiapan yang cukup dari berbagai aspek, internal maupun eksternal. Perlu dilakukan pembenahan konsep agar fisik maupun materi cukup mampu mengundang untuk orang berkunjung, hal ini tentunya juga harus didukung sosaialisasi dan kampanye serta  promosi program yang sampai pada ke telinga orang banyak. Dan alangkah senangnya ketika berkunjung, pengunjung ditemani pemandu yang cukup mengerti dan paham tentang koleksi yang dipamerkan, sehingga tujuan keberadaan museum dalam mencerdaskan bangsa bukan sekedar tujuan yang cuma sekedar ada dalam angan-angan.

Terus terang dalam beberapakali kunjungan ke museum, kondisi yang kutemukan belum sesuai harapan. Berkeliling sendiri memandangi koleksi dengan hanya sedikit informasi, petugas yang adapun tidak terlalu dapat banyak membantu.

Mengunjungi Museum yang memamerkan beragam koleksi tidak mungkin dilakukan dalam waktu yang singkat, meskipun untuk sekedar melihat-lihat, jadi agar orang merasa nyaman dalam mengelilingi area yang cukup luas, ruangan jangan sampai terasa panas hingga membuat orang jadi keluar bergegas.

Museum Adityawarman yang dibangun pada tahun 1974 ini memiliki arsitektur rumah adat Minangkabau, rumah gadang tipe Gajah Maharam, lengkap dengan dua buah lumbung yang disebut rangkiang yang terdapat didepannya.



Museum budaya ini menyimpan berbagai koleksi sejarah dan merupakan cagar budaya Minangkabau.  

Di halaman depan  tak jauh dari gerbang terdapat pesawat perang yang dikatakan peninggalan Perang dunia II, tapi aku tak berhasil mendapat keterangan lebih lanjut tentang sejarah pesawat ini.

Memasuki Rumah Gadang, berjalan ke arah kiri, kita akan sampai pada ruangan yang memamerkan miniatur rumah adat dan pelaminan mini yang digunakan untuk pengantin Minang lengkap dengan pernak-pernik yang diperlukan pada pesta pernikahan. Pada dinding tercantum Sistem kekerabatan dalam masyarakat dunia yang terdiri dari dua sistem kekerabatan yaitu Matrilineal dan Patrilineal. 

  • Masyarakat Minangkabau menganut sistem Matrilineal yang mempunyai ciri-ciri : Keturunan dihitung menurut garis keturunan ibu
  • Suku dibentuk menurut garis keturunan ibu
  • Perkawinan harus dengan suku lain (eksogami)
  • Sifat perkawinan :matrilokal” (suami pulang ke rumah istri)
  • Kekuasaan suku di tangan ibu (pemegang waris)
  • Hak pusako diwariskan mamak kamanakan.

Dari museum ini juga baru aku tahu bahwa masyarakat Minangkabau juga mengenal budaya membatik sejak zaman Adityawarman berkuasa, ini ditemukannya motif batik tanah Liek yang sering digunakan oleh para penghulu dan bundo kandung dalam setiap upacara adat. 

Batik Tanah Liek dalam proses pembatannya menggunakan perwarnaan alami dari lrutan tanah liat yang akan memberi warna coklat serta warna lain berasal dari kulit dan daun-daun tanaman. Kerajinan membatik ini mulai digalakkan kembali di Kota Padang dan masyarakat Sitiung Kabupaten Dharmasraya.

Menyadari bahwa ternyata kerajinan membatik juga dikenal masyarakat Minangkabau membuatku saat itu langsung berkomentar pada petugas yang kebetulan ada disana:

“ternyata di minangkabau, ada batik juga ya pak” kataku
“ Ah, masa’, saya gak tau” katanya. Jawaban yang sungguh mati membuat aku heran.

Dari lantai atas kami turun ke lantai bawah yang memamerkan berbagai ragam  koleksi pakaian adat, salah satunya Pakaian Urang Ampek jinih. 
Istilah Urang Ampek Jinih ini merujuk pada empat orang pemangku adat dalam satu kaum/suku yang menjalankan aturan adat. 

Mereka adalah Penghulu dan tiga pembantu penghulu yang disebut Manti, Malin dan Dubalang.


Manti adalah orang cerdik pandai dan dipercayai sebagai penyambung tangan dan lidah  dalam menyampaikan penyuluhan, menyelesaikan permasalahan, memegang kata pusaka yang diungkapkan dalam bentuk adigium “kato manti kato salasai, kusuik manyalasaian, karuah manjaniahan. Pakaian Manti berwarna hitam.

Malin adalah orang yang membantu penghulu dalam urusan agama, ia dijuluki suluah bendang dalam nagari yang disimbolkan dengan pakaiannya yang serba putih.

Dubalang disebut juga dengan sebutan hulubalang, orang yang menjaga keamanan kaum dan nagari. Prinsip kepemimpinannya kato mandareh, berdiri dan bertindak diatas kebenaran. Pakaiannya berwarna merah dan memegang tombak.





Museum ini juga memiliki ruang pamer Budaya suku Mentawai, mungkin karena masih dalam taraf berbenah akibat gempa tahun lalu, di salah satu etalase kami hanya menemukan ruang kosong tanpa koleksi yang dipamerkan, kecuali dua buah foto yang dipajang dan tulisan “Jagalah kesopanan anda”, entah apa kaitannya. Disini kita disuguhkan foto-foto yang menggambarkan kegiatan masyarakat Suku Mentawai .



Ketika kami berkeliling ke ruangan-ruangan yang ada di lantai satu, ada peristiwa lucu. Kami sempat heran kok budaya Minang hampir begitu miripnya dengan Kalimantan, karena benda yang dipamerkan adalah yang berkaitan dengan adat dan budaya Kalimantan, dan kebetulan pada saat tersebut ada seorang wanita berseragam melewati kami, maka dengan segera kami bertanya pada beliau tentang keheranan ini. Dengan senyum, beliau menjelaskan bahwa “Ini ruang Nusantara “
Halaaah, pantaslah!, begitulah kalau berjalan tanpa panduan.

Dihalaman luar,terdapat replika arca Adityawarman,  terdapat pula prasasti Saruaso yang juga merupakan replika. Arca Adityawarman yang asli saat ini menjadi koleksi Museum Nasional Jakarta, sementara Prasasti Saruaso terdapat di tempat asalnya.

Kunjungan ke museum ke Adityawarman memang dilakukan secara singkat karena waktu yang mendesak dan tanpa persiapan lebih dulu, namun begitu banyak juga pengetahuan yang kami dapat dari situ, suatu saat aku pasti akan kembali, seharian di dalamnya mempelajari  berbagai koleksinya dengan melakukan persiapan lebih dulu dan minta ditemani pemandu.

Replika Prasasti Adhityawarman

Replika Prasasti Saruaso

Padati
Pelaminan